Pages

Selasa, 17 Mei 2011

Indonesian


Keberagaman dan toleransi merupakan dua hal yang saling terkait, terutama jika menyangkut masalah keagamaan dan suku bangsa.  Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim dengan berbagai macam etnis dan kebudayaan, memiliki banyak kisah perihal toleransi yang menarik untuk diangkat dalam tayangan layar lebar. Hanung Bramantyo sebagai seorang sutradara kawakan tergerak untuk dapat menghadirkan kisah dengan latar belakang perbedaan ini kepada masyarakat Indonesia.  Untuk itu Mahaka Pictures dan Dapur Film  akan, meluncurkan film tersebut pada 7 April 2011 di bioskop-bioskop Indonesia.
Film ke 14 Hanung Bramantyo ini  mengisahkan tentang konflik keluarga dan pertemanan  yang terjadi di sebuah area dekat Pasar Baru, dimana terdapat Masjid, Gereja dan Klenteng yang letaknya tidak berjauhan, dan para penganutnya memiliki hubungan  satu sama lain.
Dikisahkan bahwa  terdapat 3 keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Keluarga Tan Kat Sun  memiliki restauran masakan Cina yang tidak halal, Keluarga Soleh, dengan masalah Soleh sebagai kepala keluarga yang tidak bekerja namun memiliki istri yang cantik dan soleha, Keluarga Rika, seorang janda dengan seorang anak, yang berhubungan  dengan  Surya, pemuda yang belum pernah menikah. Hubungan antar keluarga ini dalam kaitannya dengan masalah perbedaan pandangan, status, agama dan suku,  akan dipaparkan  secara menarik  dalam film berdurasi 100 menit.








Sebagai ginekolog, Kartini (Jajang C. Noer) menemui beragam pasien perempuan dari latar belakang yang berbeda tapi sama-sama jadi korban figur lelaki dalam hidup mereka. Ia melayani remaja yang hamil di luar nikah, istri yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan pekerja seks yang menderita kanker rahim. Kartini sendiri mencoba mengubur hubungan masa lalunya yang penuh masalah dengan beberapa lelaki berbeda. Inilah sebabnya Kartini selalu skeptis terhadap makna cinta dan karenanya iapun segan menikah.
Anton (Hengky Solaiman), seorang dokter lain, mengungkapkan perasaan tulusnya terhadap Kartini dan melamarnya. Meski teman dan keluarganya mendorong, Kartini bertahan pada sikap segan dan ragunya tentang masa depan pernikahan. Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang ginekolog junior yang eksentrik tapi bersahabat, Rohana (Marcella Zalianty).







Minggu Pagi di Victoria Park berangkat dari kisah nyata para TKI di Hong Kong. Di sana digambarkan hidup para buruh migran, dari tempat pelatihan hingga cobaan hidup yang mereka alami di negara tujuan.
Adegan dalam film berisi problematika dan realitas kehidupan para TKI. Dari kesulitan mencukupi kebutuhan hidup, menahan kesepian, sampai cobaan menghadapi pengaruh lingkungan budaya asing. Jika salah bergaul, bukan tak mungkin, mereka bakal terjerumus dalam limbah hitam prostitusi atau penyimpangan lainnya.
Victoria Park adalah tempat, di mana para TKW berkumpul setiap akhir pekan. Di taman itu, mereka berbagi kisah hidup dengan teman seperjuangan maupun orang-orang terdekat.





0 komentar:

Posting Komentar